Sabtu pagi yang cerah itu, tepat pukul delapan, kami berkunjung ke kediaman salah satu penasihat pondok yang sejak awal mengawal berdirinya yayasan: Prof. Dr. Agus Soehadi. Beliau adalah seorang akademisi sekaligus peneliti di sebuah perguruan tinggi bergengsi di Jakarta—sosok yang tidak hanya kaya pengalaman, tetapi juga dikenal rendah hati dan selalu menerima kami dengan penuh kehangatan.
Begitu kami tiba, Prof. Agus menyambut dengan senyum ramah sebelum mempersilakan kami duduk. Obrolan langsung mengalir, dimulai dengan pertanyaan sederhana tentang bagaimana perkembangan pondok hingga saat ini. Kesempatan itu saya gunakan untuk menyampaikan laporan lengkap mengenai progres program: apa yang sudah dikerjakan, apa yang sedang berjalan, dan beberapa rencana penting dalam waktu dekat.
Ada tiga agenda utama yang saya sampaikan secara serius: kemandirian ekonomi pondok, penguatan Aswaja, dan rencana Safari Ramadhan ke Batam sebagai program magang dakwah lanjutan dari tahun lalu. Ketiganya menurut kami adalah kunci untuk mengukuhkan arah pondok, bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai ruang pembinaan karakter dan kemandirian santri.
Prof. Agus mendengarkan dengan penuh perhatian—gesturnya menunjukkan bahwa beliau bukan sekadar penasihat di atas kertas, tetapi seseorang yang benar-benar peduli pada perjalanan pondok. Beliau mengapresiasi upaya-upaya yang telah kami lakukan serta memberikan sejumlah arahan penting mengenai bagaimana memulai usaha, memilih branding yang tepat, dan membangun langkah-langkah strategis yang realistis sesuai kapasitas yang kami miliki.
Tidak berhenti di situ, Prof. Agus juga menyampaikan komitmennya untuk membantu menghubungkan pondok dengan jaringan bisnis yang beliau miliki. Harapan kami tentu besar, namun lebih besar lagi rasa syukur karena dukungan moral seperti inilah yang menjadi energi bagi kami untuk terus bergerak.
Usai membahas program-program pondok, obrolan berkembang liar namun tetap berbobot. Kami berbincang mengenai dinamika politik negara, mulai dari kepemimpinan nasional, kunjungan Wakil Presiden Gibran ke Afrika Selatan, hingga isu-isu strategis seperti pembangunan Ibu Kota Negara dan arah geopolitik internasional. Seolah tanpa disadari, kami larut dalam diskusi panjang yang sarat analisis—dua jam penuh daging, meminjam istilah anak sekarang.
Pengalaman pagi itu terasa seperti kuliah singkat dari seorang guru besar yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memahami realitas dan pergerakan zaman. Ada rasa ringan, ada rasa tercerahkan, dan ada juga rasa tersentuh karena perhatian beliau kepada perkembangan pondok tidak pernah surut.
Di akhir pertemuan, saya hanya bisa menyampaikan rasa terima kasih yang tulus. “Sehat selalu, Prof. Panjang usia, dan jangan bosan membimbing kami,” ucap saya kepada beliau.
Silaturahim pagi itu bukan sekadar pertemuan, tetapi sebuah penguatan arah. Dan kami pulang dengan membawa banyak sekali bekal berharga untuk menata langkah ke depan.
SHILATURRAHIM KE PENASIHAT: MISI KENGUATKAN ARAH PONDOK KE DEPAN
editoriallombok.com3 min baca










